<$BlogRSDUrl$>

Tuesday, September 02, 2003

Nyanyian pengamen bus kota: 

Apa tak takut dosa


Ada sebuah pantat
Dibungkus celana ketat
Bergoyang-goyang hebat
Memancing maksiat
Apa tak takut dosa
Apa tak takut dosa


Ada seorang pejabat
Berjanji sama rakyat
Pada suatu rapat
Di sebuah gedung bertingkat
Ujung-ujungnya khianat
Apa tak takut dosa
Apa tak takut dosa

*)dikutip dari nyayian seorang pengamen dalam Bus Kota P11 Grogol-Pulogadung
pada 2 September 2003 jam 10.30-an. (pikatan.blogspot.com)

Wednesday, August 27, 2003

Apakah cinta merupakan seni? 

Erich Fromm

Apakah cinta itu suatu seni? Jika memang demikian halnya, maka cinta memerlukan pengetahuan dan perjuangan. Ataukah cinta itu hanya sebentuk perasaan menyenangkan yang dialami secara kebetulan saja, sesuatu yang membuat kita tercebur di dalamnya jika sedang beruntung?

Itulah dua pertanyaan yang bisa diajukan dalam persoalan cinta mencintai.

Buku ini ditulis bedasarkan premis pertama, yakni bahwa cinta merupakan seni yang harus dimengerti dan diperjuangkan. Sikap ini berseberangan dengan pandangan mayoritas orang zaman sekarang yang condong pada premis kedua.

Kecenderungan sikap semacam ini bukanlah karena sekarang orang meremehkan cinta, karena kenyataan yang terjadi justru sebaliknya: orang sekarang haus akan cinta.

Tanpa kenal lelah mereka menonton film tentang cinta baik yang menggembirakan maupun menyedihkan. Mereka juga tak henti-hentinya mendengarkan beratus-ratus lagu tak bermutu tentang cinta.

Namun demikian, hanya sedikit orang yang menyadari bahwa ada hal penting yang mesti dipelajari tentang cinta.



***

Dalam masalah cinta, kebanyakan orang pertama-tama melihatnya sebagai persoalan dicintai daripada mencintai atau kemampuan untuk mencintai. Oleh karena itu, persoalan terpenting bagi kebanyakan orang adalah bagaimana agar dicintai, atau bagaimana agar bisa dicintai.

Demi tujuan agar dicintai tersebut, orang menempuh berbagai jalan. Salah satunya, yang mana tindakan ini umumnya ditempuh kaum lelaki, adalah bagaimana agar sukses, kaya, berkuasa, tanpa melanggar batas-batas sosial yang ada.

Sementara cara lain yang umumnya ditempuh kaum perempuan adalah dengan membuat diri semenarik mungkin, dengan cara merawat tubuh, pakaian, penampilan dan seterusnya.

Namun ada juga cara yang ditempuh baik oleh kaum lelaki maupun perempuan, yaitu dengan mengembangkan tingkah laku yang menyenangkan, percakapan yang mengesankan, suka menolong, sopan dan menjauhkan diri dari sikap jahil dan norak.

Dalam banyak hal, cara yang ditempuh agar dicintai mengidap kesamaan dengan cara dalam "mencari kawan dan merebut pengaruh".

Apa yang dimaksudkan oleh kebanyakan orang dengan "menarik" itu sendiri pada dasarnya adalah campuran antara popularitas dan daya tarik seksual.



***

Hal kedua yang mendasari sikap aneh masyarakat sekarang dalam soal cinta adalah anggapan bahwa cinta adalah persoalan objek, bukan persoalan kemampuan.

Kebanyakan orang berfikir bahwa mencintai adalah persoalan mudah. Bagi mereka, yang sulit justru mencari objek untuk dicintai. Sikap ini memiliki sejumlah alasan yang dapat dilacak dalam arus perkembangan masyarakat modern.

Perubahan luar biasa terjadi pada abad ke-20 yakni dihormatinya hak untuk memilih "objek cinta"...



***

Bagi lelaki zaman sekarang, gadis yang menarik tak ubahnya bingkisan yang selalu mereka inginkan. Dan sebaliknya, bagi perempuan , lelaki yang lebih menarik adalah hadiah yang mereka dambakan. Arti "menarik" disini tidak lain adalah kumpulan dari sikap manis serta popular –model karakter yang selalu dicari dalam pasar kepribadian....

Intinya, perasaan jatuh cinta biasanya berkembang karena adanya komoditas yang bisa dipertukarkan. Seseorang diinginkan karena dia juga menginginkan, dengan mempertimbangkan segala aset dan potensi yang dimiliki masing-masing, baik yang tersembunyi maupun tampak.

Jadi, dua sosok manusia akan jatuh cinta jika mereka telah menemukan objek terbaik mereka di pasaran, dengan mengingat batas nilai tukar yang mereka miliki. Dalam kebudayaan dimana orientasi pasar sangat berkuasa dan sukses material merupakan yang utama, relasi cinta manusia yang bersesuaian dengan prinsip pasar adalah hal biasa.

***



Tetapi, apakah memang demikian seharusnya? Apakah yang layak dipelajari hanya hal-hal yang menghasilkan uang dan prestige? Apakah cinta , yang "hanya" bermanfaat bagi jiwa tetapi tidak menghasilkan keuntungan materi tidak layak dipelajari? Apakah cinta merupakan sebentuk kemewahan yang mana kita tidak pantas mencurahkan energi untuk mempelajarinya?



***

Untuk informasi lebih lanjut mengenai teori dan praktek cinta sebagai seni, sebagaimana seni musik, seni tari dan sebagainya; juga bagaimana mencintai saudara, orang tua, diri sendir serta Tuhan, silakan baca: Erich Fromm, The Art of Loving, penerbit Fresh Book, Jakarta, Agustus 2002. Buku itu terlalu panjang dan berharga untuk diringkas jadi tulisan pendek. Jadi, silakan baca sendiri. (pikatan.blogspot.com)

Tuesday, August 26, 2003

Sebuah Kecelakaan 

(Lu Hsun/ Lu Xun)


Enam tahun berlalu sejak aku datang dari desa ke ibu kota ini.
Sepanjang waktu itu aku telah banyak melihat dan mendengar berbagai hal yang dikenal sebagai masalah negara, tetapi tidak satu pun menarik bagiku. Jika aku diminta untuk mendefinisikan pengaruhnya, aku hanya dapat mengatakan bahwa itu semua malah memperburuk temperamenku yang pemarah. Dan terus terang saja, membuatku lebih membenci orang lain.

Namun, sebuah kecelakaan sangat mengejutkanku dan menghilangkan temperamenku yang buruk. Sehingga bahkan sampai sekarang aku tidak dapat melupakannya.

Peristiwa itu terjadi pada musim dingin tiga tahun lalu. Angin utara yang pahit bertiup. Tetapi demi mencari nafkah terpaksa aku bangun lebih awal. Tak banyak orang kutemui di jalan, dan sangat sulit mendapatkan penarik rickshaw (becak) untuk mengantarku ke Gerbang S.

Angin baru saja bertiup perlahan. Kini debu-debu ringan telah dihembuskan menjauh, membuat jalan menjadi bersih, dan seorang penarik rickshaw tampak mempercepat langkahnya.
***

Kami baru saja mendekati Gerbang S ketika seseorang yang menyeberang jalan terbelit rickshaw kami dan jatuh perlahan. Dia adalah seorang wanita dengan garis-garis putih di rambutnya, mengenakan baju compang-camping.

Dia meninggalkan trotoar tanpa memberi tanda akan menyeberang di depan kami, dan meskipun penarik rickshaw berusaha menghindar, namun jaketnya yang compang-camping tak terkancing dan berkibar tertiup angin membelit tangkai rickshaw. Untungnya penarik rickshaw itu menariknya dengan cepat. Jika tidak, dia tentu akan terpelanting dengan keras dan luka serius.

Dia tergeletak di jalan, dan penarik rickshaw itu berhenti. Kupikir wanita itu tidak terluka, dan tak ada saksi mata yang melihat apa yang terjadi. Jadi aku ingin segera pergi dari keadaan tidak nyaman ini yang mungkin mendatangkan kesulitan bagi si penarik becak hingga bisa-bisa akan menunda perjalananku.

"Tak apa-apa," kataku, "ayo kita terus."
Tetapi dia tidak mengindahkanku –mungkin tak mendengar—karena dia menurunkan tangkai rickshaw-nya dan dengan lembut dia menolong wanita tua itu untuk bangun.

Dengan mengangkat satu lengannya penarik rickshaw itu bertanya: "Anda tidak apa-apa?".
"Aku terluka."

Aku telah melihat betapa pelannya dia terjatuh, dan yakin bahwa dia tak mungkin terluka. Jadi, dia pasti berpura-pura, dan ini menyebalkan. Penarik becak itu mencari masalah, dan kini dia mendapatkannya. Dia tak bisa menghindar lagi.
***

Tetapi penarik rickshaw tidak sedikitpun ragu-ragu dengan ucapan wanita yang mengaku terluka itu.
Masih sambil memegang lengannya, dia menolongnya berjalan perlahan-lahan. Aku heran. Ketika aku melihat ke depan, aku melihat pos polisi. Karena angin bertiup begitu kencang tak ada orang di luar. Jadi, si penarik rickshaw membantu wanita muda itu berjalan menuju gerbang.

Tiba-tiba aku merasakan suatu keanehan. Tubuhnya yang berdebu dan bungkuk tiba-tiba membesar. Semakin jauh dia berjalan, dia tampak semakin besar, sampai-sampai aku harus mendongakkan kepala. Pada saat yang sama, dia tampak pelan-pelan hendak menekanku, menguasai tubuh kecilku yang kututup dengan pakaian berbulu ini.
Seakan tenagaku susut saat aku duduk terpaku di situ, pikiranku kosong, hingga seorang polisi kemudian muncul. Aku turun dari rickshaw.

Polisi itu mendatangiku dan berkata, "Carilah rickshaw yang lain. Dia tak bisa menarikmu lagi."
Tanpa berpikir kuraih segenggam tembaga dari kantung jasku dan kuserahkan uang itu kepada polisi. "Tolong berikan ini padanya," pintaku.
***

Angin telah berhenti, tetapi jalanan masih sepi. Aku berjalan sambil berpikir, tetapi aku takut memikirkan diriku sendiri. Aku berusaha melupakan apa yang telah terjadi.

Tetapi, apa maksudku menyerahkan segenggam uang tadi? Apakah itu upah? Siapakah aku ini hingga berani-beraninya mengupah si penarik becak itu? Aku sendiri tak bisa menjawabnya.
Hingga kini peristiwa itu masih segar dalam ingatanku. Peristiwa itu membuatku tertekan, dan menyebabkan aku berpikir tentang diriku sendiri.

Semua masalah politik dan militer dalam tahun-tahun itu telah kulupakan, seperti ketika aku melupakan karya sastra klasik yang pernah kubaca pada masa kanak-kanak. Namun ingatan tetang peristiwa kecelakaan itu selalu kembali mendatangiku, dan seringkali lebih hidup ketimbang dalam kehidupan sesungguhnya.

Peristiwa itu mengajariku tentang rasa malu, mendesakku untuk memperbaiki diri, dan memberiku harapan serta keberanian yang baru.

Juli 1920.

Disadur dari Lu Hsun (Zhao Shuren), Sebuah Kecelakaan, dimuat dalam buku Lu Hsun, Kisah dari Negeri Cina, Penerbit Jendela, Mei 2002.(pikatan.blogspot.com)

Tak perlu bertengkar 


Aku berjalan ke arah barat di pagi hari
matahari di belakangku
sementara bayanganku ada di depan.

Aku dan matahari tidak pernah bertengkar
mengenai siapa diantara kami
yang menyebabkan munculnya bayangan.

Aku dan bayanganku tidak pernah berdebat
tentang siapa diantara kami
yang melangkah lebih dahulu.

Dikutip dari syair seorang pengamen dalam bus kota 946, Grogol-Manggarai, pada 21 Mei 2002 (pikatan.blogspot.com)

Para pengemis 

(Lu Xun)

Hembusan angin menerpa dan debu di mana-mana.
Seorang anak mengemis padaku. Ia berpakaian kusut seperti yang lainnya dan tak tampak tidak bahagia. Tetapi ia menghalangi langkahku –menyembah-nyembah dan merengek-rengek sambil mengikutiku terus.
Aku tidak menyukai suaranya, juga tingkah lakunya. Aku benci karena ia tidak tampak sedih, seolah ini semua adalah semacam permainan. Aku dibuat muak oleh caranya mengikutiku, merengek-rengek.

Aku berjalan terus. Beberapa orang berjalan sendirian. Hembusan angin menerpa, dan debu di mana-mana.
Seorang anak lain mengemis padaku. Anak itu berpakaian kusut seperti yang lainnya dan tak tampak tidak bahagia. Tetapi ia bisu. Anak itu menjulurkan tangannya padaku dalam pertunjukan tanpa suara.
Aku membenci pertunjukannya yang tanpa suara. Lagi pula, ia mungkin saja tidak benar-benar bisu. Ini mungkin hanya sebuah cara untuk mengemis.

Aku tidak memberinya apa-apa. Aku pun tidak bermaksud memberinya apa-apa. Aku lebih tinggi dari pada orang-orang yang memberi sedekah kepada para pengemis itu. Terhadap para pengemis aku hanya punya rasa muak, curiga dan benci.

Angin berhembus dan membawa dingin musim gugur menyentuh jas panjangku yang kusut. Dan debu ada di mana-mana.
Aku bertanya cara apa yang sebaiknya kugunakan seandainya aku mengemis. Dengan suara bagaimana aku harus berbicara? Pertunjukan bisu macam apa yang sebaiknya kupakai jika berpura-pura bisu?

Beberapa orang berjalan sendirian.
Aku tidak akan menerima sedekah. Aku akan menerima rasa muak, curiga dan benci dari mereka yang menganggap dirinya lebih tinggi daripada para pemberi sedekah itu.
Aku akan mengemis dengan cara tidak bergerak dan bisu.
Dan akhirnya aku tidak akan menerima apa pun.

Angin bangit dan debu di mana-mana. Beberapa orang berjalan sendirian.
Debu... debu
24 September 1924


Dikutip dari Lu Xun, Para Pengemis, dimuat dalam Seri cerpen dunia: Sang Pendeta dan Kekasihnya, IndonesiaTera, 2001.

Friday, August 15, 2003

bisikan hari jumat: 

Bersyukur

Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. Dan sesungguhnya akhirat itu lebih baik daripada permulaan (dunia). Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.

Bukankah dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberi petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.

Maka terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaknya kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).
[QS Adh-Dhuha]


Bersedekah

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.

Dan infaqkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang diantaramu; lalu dia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah (sehingga) aku termasuk orang-orang yang sholeh?"

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
[QS Al Munaafiquun: 9-11]

Wednesday, August 13, 2003

Para pengemis 

(Lu Xun)

Hembusan angin menerpa dan debu di mana-mana.
Seorang anak mengemis padaku. Ia berpakaian kusut seperti yang lainnya dan tak tampak tidak bahagia. Tetapi ia menghalangi langkahku –menyembah-nyembah dan merengek-rengek sambil mengikutiku terus.
Aku tidak menyukai suaranya, juga tingkah lakunya. Aku benci karena ia tidak tampak sedih, seolah ini semua adalah semacam permainan. Aku dibuat muak oleh caranya mengikutiku, merengek-rengek.

Aku berjalan terus. Beberapa orang berjalan sendirian. Hembusan angin menerpa, dan debu di mana-mana.
Seorang anak lain mengemis padaku. Anak itu berpakaian kusut seperti yang lainnya dan tak tampak tidak bahagia. Tetapi ia bisu. Anak itu menjulurkan tangannya padaku dalam pertunjukan tanpa suara.
Aku membenci pertunjukannya yang tanpa suara. Lagi pula, ia mungkin saja tidak benar-benar bisu. Ini mungkin hanya sebuah cara untuk mengemis.

Aku tidak memberinya apa-apa. Aku pun tidak bermaksud memberinya apa-apa. Aku lebih tinggi dari pada orang-orang yang memberi sedekah kepada para pengemis itu. Terhadap para pengemis aku hanya punya rasa muak, curiga dan benci.

Angin berhembus dan membawa dingin musim gugur menyentuh jas panjangku yang kusut. Dan debu ada di mana-mana.
Aku bertanya cara apa yang sebaiknya kugunakan seandainya aku mengemis. Dengan suara bagaimana aku harus berbicara? Pertunjukan bisu macam apa yang sebaiknya kupakai jika berpura-pura bisu?

Beberapa orang berjalan sendirian.
Aku tidak akan menerima sedekah. Aku akan menerima rasa muak, curiga dan benci dari mereka yang menganggap dirinya lebih tinggi daripada para pemberi sedekah itu.
Aku akan mengemis dengan cara tidak bergerak dan bisu.
Dan akhirnya aku tidak akan menerima apa pun.

Angin bangkit dan debu di mana-mana. Beberapa orang berjalan sendirian.
Debu... debu.
24 September 1924


Dikutip dari Lu Xun, Para Pengemis, dimuat dalam Seri cerpen dunia: Sang Pendeta dan Kekasihnya, IndonesiaTera, 2001.

Memulai hari 

(Solzhenitsyn)


Pada waktu matahari terbit, tiga puluh pemuda berlari ke tempat terbuka, berderet menghadap ke arah matahari, dan mulai menekuk tubuh, berjongkok, membungkuk, menyentuhkan wajah ke tanah, merentangkan tangan, mengangkat tangan ke atas kepala, serta bergoyang ke depan dan belakang dengan membengkok-bengkokkan lutut mereka. Ini berlangsung selama seperempat jam.
Dari jauh kau barangkali mengira mereka sedang berdoa.

Pada zaman kita ini tidak ada yang terkejut kalau ada orang setiap hari memberikan perhatian yang cermat dan sabar terhadap tubuh mereka. Tetapi semua akan marah sekali kalau orang itu memberikan perhatian serupa kepada jiwanya.
Tidak. Mereka tidak sedang mengucapkan doa. Mereka sedang melakukan senam pagi.


Dikutip dari Alexander Solzhenitsyn, Memulai Hari, dimuat dalam Seri cerpen dunia: Sang Pendeta dan Kekasihnya, IndonesiaTera, 2001.


Thursday, August 07, 2003

PRAMUKA 

DASA DHARMA PRAMUKA
No.036/Kwartir Nasional/1979

Pramuka itu:
1. Taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa
2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
3. Patriot yang sopan dan ksatria
4. Patuh dan suka bermusyawarah
5. Rela menolong dan tabah
6. Raji, trampil dan gembira
7. Hermat, cermat dan bersahaja
8. Disiplin, berani dan setia
9. Bertanggungjawab dan dapat dipercaya
10. Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan


DWI DHARMA
Siaga itu menurut ayah ibundanya
Siaga itu berani dan tidak putus asa



dikutip dari buku saku pramuka (pikatan.blogspot.com)

Tuesday, August 05, 2003

Orang kuat & pribadi besar 

"Peradaban adalah hasil pikiran orang yang kuat"

"Orang yang kuat menciptakan lingkungan; orang yang lemah harus menyesuaikan diri dengan lingkungan"


"Suatu organisasi sosial yang sakit kadang membangun sendiri dalam dirinya kekuatan untuk memelihara kesehatannya. Sebagai contoh, kelahiran Pribadi Besar yang akan menghidupkan kembali organisasi sekarat itu dengan mengungkapkan cita-cita baru."


Dikutip dari tulisan Muhammad Iqbal, Stray Reflection, dimuat dalam buku Sisi Manusiawi Iqbal, Mizan, 1992


Komet Halley 

Komet Halley
15 Mei 1910

Kemarin, kira-kira pukul empat dini hari, aku melihat sang tamu agung, Komet Halley, melintas di belahan langit kita. Sekali dalam 75 tahun perenang agung jagat raya ini muncul di langit kita. Hanya melalui mata anak cucukulah, aku dapat menyaksikannya kembali.

Keadaan pikiranku sungguh amat unik. Aku merasa seolah-olah sesuatu yang tak terkatakan masuk dalam keterbatasanku yang sempit; namun pikiran bahwa aku tak akan pernah lagi menyaksikan sang petualang ini menimbulkan kepedihan akan kekecilanku.
Untuk sesaat, semua ambisi dalam diriku padam.

Dikutip dari tulisan Muhammad Iqbal, Stray Reflection, dimuat dalam buku Sisi Manusiawi Iqbal, Mizan, 1992



Perpustakaan besar 

Jika engkau memiliki sebuah perpustakaan besar dan mengetahui semua buku yang tersimpan di dalamnya, itu hanya menunjukkan bahwa engkau seorang kaya, tidak mesti pemikir. Perpustakaan itu cuma menunjukkan bahwa dompetmu cukup tebal untuk membayar banyak orang berfikir untukmu.

Dikutip dari M. Iqbal, Stray Reflection, dimuat dalam buku Sisi Manusiawi Iqbal, Mizan, 1992

Wahai Angkatan Baru 

karya: Sir Muhammad Iqbal


Wahai angkatan baru.
Siapkanlah dirimu untuk menggantikan angkatan lama, mereka akan pulang tak lama lagi.
Janganlah menjadi pemuda kecapi suling yang bersenandung meratapi tepian yang sudah runtuh, mendendangkan masa silam yang telah pergi jauh.
Janganlah engkau membuat kekeliruan lagi seperti pernah dilakukan oleh angkatan yang engkau gantikan.
Teruskanlah perjalanan ini dengan tenaga dan kakimu sendiri. Dada bumi cukup luas untuk menerima kehadiranmu.

Penuhilah segenap udara ini dengan kegiatan dan ketekunan, sungguh dan penuh. Hadapilah tugas maha berat ini dengan jiwa besar, dengan daya juang, api semangat yang nyalanya kuat dan keras.
Pupuklah ruh jihad, semangat revolusioner, radikal dan progressif dalam jiwamu. Bertindaklah sebagai laki-laki dengan perhitungan nyata dan pertimbangan yang matang.

Perkayalah dirimu dengan meneladan kepada masa silam, dimana ada yang rebah dan ada yang bangun, ada yang jatuh terus berdiri lagi.
Kamu tidak boleh menjadi plagiator dari angkatan lama dan tidak boleh menepuk dada serta meniadakan harga dan nilai, jasa dan karya angkatan lama.
Mereka kaya akan pengalaman, engkau kaya akan cita-cita.

Padukanlah pengalaman angkatan lama dengan nyala citamu.
Sejarah ini telah lama berjalan, bergerak dan berkembang. Kamu hanyalah tenaga penyambung, menyelesaikan bengkalai yang belum selesai, meneruskan pekerjaan besar, sundut bersundut, dari keturunan satu ke keturunan lain, angkatan kemudian angkatan.
Kafilah hidup ini ibarat gelombang lautan, menghempas yang satu menyusul yang lain, memecah yang pertama datang yang kedua.

Sadarilah posisi dan fungsimu dalam sejarah dan lakukanlah tugas suci ini dengan pengertian, keyakinan dan keshabaran!!
Kafilah kedaulatanmu adalah sebagai angkatan baru yang hendak menggantikan manusia tua angkatan lama. Tidaklah sama dan serupa antardua angkatan zaman itu. Sebab, sejarah berjalan senantiasa menurut hukum dinamika dan dialektika.

Dikutip dari karya Sir Muhammad Iqbal, Shikwa dan Jawab-i-Shikwa, dimuat dalam buku Usrah, Hasan Al-Banna, Salman ITB, 1989

This page is powered by Blogger. Isn't yours?